Ketum MUI Riau Tekankan Pemahaman Filosofi Haji sebagai Kunci Sertifikasi Pembimbing Ibadah

oleh -24 Dilihat

PEKANBARU — Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Provinsi Riau, Ilyas Husti, menegaskan bahwa pemahaman filosofi ibadah haji merupakan kunci utama dalam membentuk pembimbing haji dan umrah yang profesional, berintegritas, serta berakhlak mulia.

Penegasan tersebut disampaikan saat beliau memberikan materi pada kegiatan Sertifikasi Pembimbing Ibadah Haji dan Umrah Angkatan I Tahun 2025 yang diselenggarakan di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, Minggu (14/12/2025).

banner 336x280

Di hadapan para peserta sertifikasi, Prof. Dr. H. Ilyas Husti, M.A. menekankan bahwa ibadah haji tidak dapat dipahami semata-mata sebagai rangkaian ritual fisik, melainkan sebagai perjalanan spiritual yang sarat dengan nilai-nilai pembinaan akhlak dan ketauhidan.

“Haji adalah perjalanan spiritual menuju Allah SWT. Setiap rukun dan wajib haji mengandung hikmah yang mendalam. Pembimbing harus memahami hal ini agar mampu membina jamaah secara utuh, lahir dan batin,” tegasnya.

Guru Besar UIN Sultan Syarif Kasim Riau tersebut menjelaskan bahwa filosofi haji dimulai dari ihram yang melambangkan penyucian diri dan kesetaraan manusia di hadapan Allah. Selanjutnya, tawaf mengajarkan bahwa seluruh aspek kehidupan harus berpusat pada ketaatan dan penghambaan kepada Allah SWT.

“Tawaf mengajarkan bahwa hidup tidak boleh berputar pada ego dan kepentingan duniawi, tetapi harus berporos pada nilai tauhid,” ujarnya.

Lebih lanjut, Prof. Ilyas menguraikan makna sa’i sebagai perpaduan antara ikhtiar dan tawakal, wukuf di Arafah sebagai puncak introspeksi dan pengakuan kehambaan, serta melontar jumrah sebagai simbol perlawanan terhadap godaan setan dan hawa nafsu.

“Pembimbing haji wajib menjelaskan makna-makna ini agar jamaah tidak hanya pulang dengan gelar haji, tetapi juga dengan perubahan akhlak dan kepribadian yang lebih baik,” ungkapnya.

Kegiatan sertifikasi tersebut diselenggarakan oleh UIN Sultan Syarif Kasim Riau bekerja sama dengan Kementerian Agama Republik Indonesia sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia pembimbing ibadah haji dan umrah di Indonesia.

Dalam program sertifikasi ini, para peserta tidak hanya diuji kemampuan teknis manasik haji, tetapi juga dibekali penguatan nilai spiritual, etika pembimbingan, serta tanggung jawab moral sebagai pendamping jamaah.

Menurut Ketua Umum MUI Provinsi Riau, tantangan pembimbing haji di era modern semakin kompleks seiring meningkatnya jumlah jamaah dan tuntutan pelayanan yang semakin tinggi.

“Pembimbing haji harus memiliki kesabaran, keikhlasan, kedisiplinan, dan empati. Nilai-nilai tersebut lahir dari pemahaman hikmah ibadah haji, bukan sekadar dari hafalan manasik,” tegasnya.

Ia berharap, melalui sertifikasi ini akan lahir para pembimbing haji dan umrah yang mampu menjadi teladan serta pemimpin spiritual bagi jamaah.

“Haji mabrur tercermin dari perubahan perilaku setelah pulang ke tanah air. Di sinilah letak peran strategis seorang pembimbing,” pungkasnya.

Program Sertifikasi Pembimbing Ibadah Haji dan Umrah Angkatan I Tahun 2025 ini diharapkan menjadi langkah awal penguatan standar nasional pembimbing ibadah, sekaligus memastikan pelayanan haji dan umrah Indonesia semakin berkualitas, beradab, dan berorientasi pada pembinaan akhlak jamaah.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.